top of page
Cari

Suku Apa yang Pertama Kali Menduduki Samarinda? Cari Jawabannya di Sini!

(Samarinda, 22 Agustus 2022), Sebagai salah satu kota terbesar di kawasan timur Indonesia, tidak heran Samarinda kerap menjadi magnet bagi para pendatang yang ingin mengadu nasib di Kota Tepian. Lokasinya yang dekat dengan kawasan IKN pun belakangan mengundang banyaknya para investor ke Samarinda. Berbagai suku dan budaya pun campur aduk di kota ini: Dayak, Kutai, Bugis, Banjar, Jawa, hingga Tionghoa. Lalu apa sebenarnya suku pertama yang hadir di kota ini?


NOMAPATU pun melakukan riset untuk mencari tau jawabannya. Mulai dari asal usul kedatangan maupun keberadaan masing-masing suku tersebut di Samarinda.


Persebaran suku-suku di Samarinda

Suku Kutai

Sejak masa kolonial masyarakat Kutai sudah bermukim dari wilayah Tenggarong untuk bekerja di lembaga birokrasi Samarinda. Pada saat itu kebanyakan warga Kutai bermukim di sekitar kawasan Pasar Pagi, berkeluarga dan berbaur dengan warga Banjar di Samarinda.


Suku Banjar

Dengan motif perdagangan, masyarakat Banjar sudah lama bermigrasi ke wilayah-wilayah Kalimantan, selain itu banyak di antara warga Banjar yang menjadi juru dakwah agama islam, hingga membuka wilayah hunian baru. Hal ini sudah lama terjadi jauh sebelum Pulau Kalimantan terpecah menjadi beberapa wilayah.


Suku Bugis

Wilayah Samarinda Seberang terkenal sebagai tempat tinggal masyarakat Bugis. Secara geografis, Selat Makassar yang membelah Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi memudahkan akses masyarakat Bugis untuk berlayar masuk ke wilayah timur Kalimantan.


Suku Dayak

Bermula dari Masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Apo Kayan yang bermukim di daerah Malinau dan Kutai Barat namun kemudian menolak untuk bergabung ke Malaysia sehingga memutuskan untuk bermigrasi secara nomaden hingga akhirnya menetap di Desa Pampang hingga sekarang.


Etnis Tionghoa

Motif kehadiran masyarakat Tionghoa mirip dengan masyarakat Banjar. Pertama kali masyarakat Tionghoa berlabuh dan bermukim di daerah Jl. Yos Sudarso untuk kepentingan niaga yang kemudian menjadi pusat aktivitas masyarakat Samarinda untuk jual-beli.


Setelah berdiskusi panjang lebar, jadi apa jawabannya?

Peradaban Samarinda didirikan secara kolektif oleh beragam suku dan etnis dimana salah satu saksinya bermula di wilayah Pelabuhan. Pada saat itu masyarakat dari hulu (pedesaan) datang untuk urusan perdagangan ke hilir (daerah pesisir sungai Mahakam). Jadi boleh disimpulkan, karena Samarinda merupakan melting pot, hampir semua suku punya perannya masing-masing dalam membangun budaya di kota Samarinda.


1 commento


Ospite
01 ott 2022

menarik banyak faktor dan pandangan hadirnya kelompok untuk jadi pemimpin suatu tempat ya

Mi piace
bottom of page