top of page
Cari

Kepuhunan: kekuatan pikir manusia

Peringatan: informasi yang tertulis dalam konten ini bersumber dari berbagai pemberitaan media mainstream atau situs resmi sedangkan opini yang disampaikan sepenuhnya merupakan opini pribadi Editorial NOMAPATU.


Apakah Warga pernah mendengar cerita seorang teman yang memutuskan untuk melakukan sesuatu secara impulsif karena emosi tertentu? Atau Warga punya kebiasaan atau ritual yang perlu dilakukan agar perasaan menjadi tenang? Kalau pernah dan punya, apa sebenarnya yang mendasari kebiasaan sehari-hari dan emosi manusia?


Menurut pakar psikologi Sigmund Freud, manusia memiliki tiga jenis pikiran. Salah satunya adalah subconscious mind atau pikiran bawah sadar. Pikiran jenis inilah yang berfungsi untuk mengendalikan emosi, memori, nilai-nilai, kebiasaan, dan fungsi psikologis lainnya.


Karena begitu kuatnya pikiran bawah sadar manusia, Sandy McGregor dalam bukunya yang berjudul Piece of Mind menyatakan bahwa perbandingan pengaruh antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar manusia adalah 88%:12%.


Jadi, kalau Warga tiba-tiba merasa senang, sedih, marah, kecewa atau perasaan lainnya saat mendengar satu bait lagu atau berkunjung ke suatu tempat, jangan bingung ya. Walaupun persentasenya kecil, hanya sekitar 12%, berbagai jenis pikiran bawah sadar terbukti memiliki kemampuan untuk memengaruhi perilaku manusia.


Terus hubungannya dengan kepuhunan?


Menurut kebanyakan masyarakat 0541 dan sekitarnya, kepuhunan adalah istilah untuk musibah yang menimpa seseorang karena menolak makanan sebelum bepergian.


Perasaan, keinginan, nilai dan kebiasaan manusia termasuk fungsi yang dijalankan oleh pikiran bawah sadar. Lebih lanjut, hal-hal yang dikendalikan oleh pikiran bawah sadar berpotensi menyebabkan berbagai masalah.


Mulai dari masih memakai seragam merah putih sampai baju smart casual di lingkungan kantor, Warga kerap mendengar “Ayo dicicip dulu, kalau nggak nanti kepuhunan”, bisa jadi, pikiran bawah sadar Warga yang tidak nyicip sebelum bepergian pun jadi terpengaruhi.


“Tadi nggak sempet nyicip lagi duh, kepuhunan nggak ya? Duh kepuhunan nih pasti”


Akibatnya, pikiran pun jadi terganggu dan sulit berkonsentrasi. Kepuhunan pun terjadi.


Rasa bersalah, tidak enak, sungkan, dan perasaan mengganggu lainnya akibat menolak sesuatu juga bisa menjadi alasan kenapa seseorang bisa mengalami kepuhunan.


Pesan yang bisa diambil, jika ditawari makanan oleh orang lain, nggak ada salahnya kok icip walau sedikit. Yang menawarkan senang, kita yang mencicipi pun dapat menjalani hari bebas dari rasa terganggu atau bersalah.


Warga NOMAPATU sudah berbagi pengalaman kepuhunannya di sini.


Warga punya informasi lain tentang kepuhunan? Atau ingin berbagi pengalaman kepuhunan dengan Warga lainnya? Yuk cerita di kolom komentar!



Comments


bottom of page