top of page
Cari

Cerita Tradisi Selamatan Berbagai Suku di Samarinda: Ada yang Sudah Lebih dari 5 Abad!

Samarinda telah lama menjadi pusat peradaban dari berbagai suku. Mulai dari Kutai, Banjar, Bugis, Dayak, hingga Tionghoa semua menjadi satu di area 0541. Beragamnya budaya di kota ini membuat Warga 0541 punya kesempatan untuk melihat dan merasakan berbagai tradisi selamatan masing-masing suku.


Cerita pertama datang dari Yudis, Warga 75123 keturunan Banjar. Dalam tradisi Selamatan/Upacara orang Banjar, hampir semuanya diakhiri dengan makan bersama. Uniknya, makan bersama ini punya beberapa macam sajian: Makan sesajian yang disajikan sejak awal upacara. Biasanya makan sesajian ini tidak untuk disantap tamu undangan namun boleh dicicipi sebagian sebagai bentuk mengambil berkat. Makan sesajian ini punya makna sebagai rasa terima kasih atas rejeki dari Tuhan. Contoh makanannya ada tapai, wadai cincin, apam, dan lamang.


Berikutnya ada makan sesuguhan upacara. Sederhananya sajian ini berupa makanan berat seperti soto banjar atau nasi kuning bumbu habang sebagai bentuk apresiasi dari sang tuan rumah kepada tamu yang telah memenuhi undangan.


Tradisi selamatan berikutnya datang dari Riris, Warga 75515 keturunan Kutai yang punya cerita tersendiri saat merayakan pesta rakyat yang dikenal dengan Festival Erau. Festival yang telah ada sejak abad ke-12 ini sejatinya dilakukan sebagai wujud syukur atas limpahan hasil bumi yang diperoleh masyarakat Kutai.


Festival Erau di Kutai Kartanegara


Dalam rangkaian Festival Erau, terdapat tradisi menarik yaitu Beseprah atau sarapan bersama. Beseprah sendiri bermakna duduk sama rendah-berdiri sama tinggi atau melambangkan kesejajaran antarkalangan masyarakat Kutai. Saat beseprah, makanan yang disantap pun beragam mulai dari kue cincin atau gence ruan (ikan haruan rica-rica).


Lain lagi cerita dari Ave, Warga 75126 keturunan Dayak Tunjung Benuaq. Kalau etnis Kutai punya Festival Erau, pada etnis Dayak terdapat Festival Dahau. Pada festival ini, terdapat berbagai acara hiburan mulai dari tari Belian sebagai ungkapan syukur atau nyanyian berisi pantun. Tidak ketinggalan, makanan khas sebagai persembahan ke Dewa mulai dari lemang hingga beras ketan pun tersedia pada perayaan ini.


Festival Dahau yang dirayakan etnis Dayak Tunjung Benuaq


Cerita pamungkas datang dari Nancy, Warga 75116 keturunan Tionghoa yang menceritakan tradisi etnis Tionghoa dalam melaksanakan teapai. Teapai sendiri merupakan upacara minum teh yang menjadi bagian dalam rangkaian prosesi pernikahan. Teh sendiri memang menjadi minuman wajib dan hampir selalu ada di berbagai acara etnis Tionghoa. Jenis yang biasa diminum adalah teh hijau atau oolong. Untuk makanan, biasanya ada kue keranjang dan jeruk sebagai lambang keberuntungan. Unik sekali ya!


Upacara minum teh Teapai yang dilaksanakan etnis Tionghoa


Berbagai cerita dari ragam etnis yang melebur di Kota Tepian menunjukkan betapa kayanya budaya di Samarinda yang bisa dirasakan langsung Warganya. Perbedaan bukan untuk menimbulkan celaan, melainkan dirayakan bersama!


120 tampilan0 komentar

Comments


bottom of page